Woman Can Drive

Cerita kali ini merupakan pengalaman yang sebenarnya memalukan. Tapi saking sebelnya saya jadi kepengan curcol di blog ini. Aku lagi marah berat…. marah, kesel, sebel, gregetan, gemes semua jadi satu. Pada siapa? Pada diri sendiri. And why? Karena aku gak bisa-bisa naek mobil… eh mengemudi tepatnya, kalau naek udah sering (nebeng maksudnya).

diambil dari redux.com

Lima tahun yang lalu aku pernah belajar motor, namun gatot, gagal total! Secara kalau aku belok, entah ke kanan atau ke kiri, mesti langsung jatuh. Setelah beberapa kali jatuh dan merusak penampilan motor kesayangan adikku, aku akhirnya menyerah dan menjadi penganut setia gerakan motor and car-free day alias jalan kaki plus naik kendaraan umum kemana-mana. Untungnya teman-temanku pada baek semua, gak ngomel kalau aku tebengin (gak tahu ya kalau dalam hati, tapi aku percaya mereka memang baek^^).

Karena naik angkot atau bus jadi urusan yang lama-lama ribet dan kebetulan kerjaku butuh mobilitas tinggi, maka aku memutuskan untuk belajar mengemudikan mobil. Yah siapa tahu mobil ortu bisa disewa seharian karena tabungan belum cukup untuk beli sendiri. Ok, singkat cerita aku akhirnya mendaftarkan diri ke salah satu sekolah mengemudi (SM). Satu hal yang menarik adalah buku pedoman yang dibuat SM ini, isinya sih biasa saja, tapi judulnya agak bikin heran setengal ill-feel, Woman Can Drive.

Buku sakti bagi cewek^^

Lhah mengapa judulnya setengah menghakimi begitu. Apa iya keberhasilan mengemudi itu memang berdasarkan jenis kelamin? Kalau penyakit tertentu sih emang ada, lha kalau mengemudi? Jadi inget kejadian waktu menyeberang jalan sama ibuku (catat: bukan di zebra cross :P ), beliau bilang, “Hati-hati kalau pas mau menyebrang terus ada pengemudi cewek yang mau lewat, lebih baik ngalah. Soalnya berbahaya, karena cewek refleksnya kurang, kadang suka terlambat nginjak rem”". Walaaahhh, terus bagaimana dengan anakmu ini Ibu?

Setelah 10 jam pelajaran mengemudi, aku dinyatakan lulus (emang paketannya 10 jam kok). Probandus pertamaku alias mobil percobaan yang pertama adalah mobil dinas salah satu kolega. Kebetulan aku menggantikan prakteknya karena beliau sekeluarga hendak pergi naik haji. Karena judulnya adalah mobil DINAS dan bukan mobil pribadi, maka diriku tidak terlalu kuatir kalau misal lecet-lecet sedikit.

Waktu perdana naik mobil itu, aku berhasil mulus melewati gapura depan rumah yang pas buat satu mobil. Yeah, tambah pede. Hari-hari berikutnya lumayan lancar walau mungkin kecepatan mobil tak lebih dari 30 – 40 km/jam, padahal jalanan sepiiii sekali. Kemudian suatu malam, entah karena  ngantuk atau capek, eh mobilku menyerempet motor. Untung kecepatan cuma 30 km/jam jadi gak ada yang luka, motor pun bodynya gak lecet, malah mobilku yang badannya lecet kena stang motor.

diambil dari drivespark.com

Sejak itu aku jadi parno, dan kemampuan mengemudi (baca: kepercayaan diri) jadi menurun. Beberapa kali aku menyerempet gapura waktu memundurkan mobil. Pernah juga mobil sampai hampir tidur ke samping karena kejebur parit, untung paritnya parit tanah, jadi badan mobil utuh tapi ya berlepotan tanah gitu deh. Untungnya semua kerusakan yang kutimbulkan cuma bersifat superfisial aja, setelah masuk bengkel,  mobil dinas sang kolega kembali utuh seperti semula sebelum beliau pulang dari tanah suci.^^

Nah berdasar perngalaman tadi, aku pun memutuskan untuk ambil les privat dengan mobil pribadi. Semuanya berjalan lancar, aku pun sudah bisa memasukkan dan mengeluarkan mobil dari garasi tanpa satu goresan pun :) . Walau masih dengan kecepatan rendah aku pun pernah didampingi untuk mengemudi ke luar kota.

diambil dari ezb14.wordpress.com

Tapi, pagi ini… Aaarrrggghh. Lagi-lagi tembok pagar rumah jadi musuh besarku, dengan mesranya bemper mobil berpelukan ama tembok pagar. Alhasil selain badan mobil sebelah kiri lecet, bemper depan pun lepas… Olala! Untung sudah diansurasikan. Namun pertanyaan besarnya adalah “Can Alice Drive“? Apa iya aku “ciong” (jiong) dengan mobil? Mumet aku….

KALImilk for NENENers

Pada artikel blog minggu kemaren, aku membahas tentang ASI eksklusif untuk bayi umur 0-6 bulan. Nah, minggu ini aku mau membahas tentang “ASI” (baca:susu) untuk orang dewasa. Kalau dingat-ingat aku memiliki sejarah panjang minum susu. Aku minum sejak kecil (sudah tidak ingat umur berapa) sampai kelas 2 SMA!

Karena waktu itu takut ‘ndut’ (baca: masih labil) maka aku putuskan untuk stop minum susu. Susu yang biasa kuminum itu susu sapi aseli lho. Biasanya setiap hari ada tukang susu keliling yang setia mengantarkan 0,5 – 1 liter susu ke rumahku.

Cukup direbus sebentar, ditambah gula (belum mikir risiko diabetes), tambah coklat (belum mikir risiko obesitas), kadang juga kopi (Kopi boleh gak sih dikonsumsi anak SD?), maka susu hangat nan lezat pun tersedia.

Nikmatnya susu hangat mocca^^

Heran juga aku tidak bosan-bosan minum susu dengan cara seperti itu selama belasan tahun, coba kalau aku tahu bahwa susu segar bisa diolah dengan lebih kreatif mungkin aku akan tambah ‘ndut, lhohhh?

KALImilk alias Kaliurang Milk yang berlokasi di Yogyakarta (Halo Ais!) ini memang surganya pecinta susu sapi aseli. Saat aku bertandang ke sana bersama sahabat-sahabatku, hujan gerimis menemani kami. Agak heran juga ketika Mira* memesan segelas susu durian dingin dan Viola* memesan  cookies milk dingin juga. Bukankah susu hangat akan lebih sesuai dengan suasana sore itu?

Teh Ninik naksir ama bang Amat, ternyata  susu dingin lebih nikmat daripada susu hangat^^ (hehe udah mirip Jessica Iskandar belum neh?). Mungkin susu dingin disini mirip dengan milkshake namun benar-benar enteng di perut jadi tidak berasa neg. Berkebalikan dengan susu hangat yang harus diminum pelan-pelan namun mempunyai efek badan jadi hangat. :)

Selain susu, juga ada menu lain yang kebanyakan berupa camilan namun juga tersedia beraneka pasta bagi pengunjung yang masih merasa belum cukup kenyang dengan segelas susu. Namun bagi para NENENers yang  memesan susu dengan ukuran Gajah (gelas besar banget :P ) pasti gak bakal ingin nambah makanan apapun lagi.

logo kalimilk dari http://www.kalimilk.com

Tunggu dulu apa pula itu NENENers? Nenen-ers berasal dari kata nenen dalam bahasa Jawa yang berarti menyusu alias minum susu. Sehingga nenen-ers dapat diartikan (secara bebas) sebagai orang-orang yang doyan minum susu. Jadi tunggu apa lagi? Cabut ke Jogja dan minum susu yux!^^

* bukan nama sebenarnya

Aku Anak ASI :)

Di penghujung tahun kemaren, saya disuruh atasan untuk mengikuti sebuah semiloka mengenai ASI. Sebenarnya agak bete juga waktu berangkat karena saya baru diberitahu jam 10 pagi, sedangkan acara dimulai jam 1 siang, di luar kota pula  (1,5 jam perjalanan bila tidak macet) dan harus menginap semalam! Alhasil langsung saja saya kalang kabut pulang dan menata baju serta peralatan seperlunya untuk menginap sehari semalam di sana. Setelah samapai di hotel tempat semiloka berlangsung, saya kaget karena saya adalah peserta kedua yang datang padahal saya sudah terlambat setengah jam. Seharusnya saya memang tidak perlu panik, saya lupa kalau acara pemerintah seperti ini memang banyak molornya dan berkesan diselenggarakan untuk menghabiskan anggaran di akhir tahun.

http://asiku.files.wordpress.com/2008/07/dot-ikat.jpg

Continue reading

Mimpi Ria

Merry Riana memang terkenal sebagai seorang yang inspiratif, mampu mempengaruhi minimal membuat kagum orang banyak melalui kisah hidupnya dalam buku Mimpi Sejuta Dolar. Bagiku pribadi, Merry Riana membuat hatiku panas… merasa hidupku menjadi biasa-biasa saja dan seakan-akan aku sudah mengorbankan satu dekade hidupku diumur 20-an. Ini adalah gejala pertama yang  biasa menimpa diriku setelah membaca kisah inspiratif dari biografi seseorang. Selalu saja terpengaruh dan ingin berubah menjadi sang tokoh.

diambil dari np-rotaract.blogspot.com

Setelah menyelesaikan buku Mimpi Sejuta Dolar dalam waktu kurang dari 48 jam aku menjadi kagum dengan sosok yang umurnya hanya setahun lebih tua dariku ini. Ada beberapa hal yang menjadi perhatianku selama membaca buku ini. Pertama-tama tentu saja kisah penghematan 10 dolar seminggu untuk makan, dimana dengan kurs saat itu (tahun 1998) 10 dolar Singapura sama dengan 100.000 rupiah.

Jujur saja awalnya saya merasa heran mengapa uang itu tidak cukup, karena saat pertama kali saya kuliah pada tahun 1999 di Semarang, uang bulanan saya hanya 500 ribu dan itu termasuk biaya kos 65 ribu rupiah dan sisanya harus cukup untuk makan dan fotokopi berbagai bahan kuliah. Continue reading

2011 Kelabu

Tahun 2011 merupakan tahun kelabu bagi blogku. Tercatat cuma pada bulan Januari dan September aku membuat tulisan. Dan tentu saja kambing hitamnya adalah studiku :)

diambil dari 123rf.com

Berkebalikan dengan nasib blog-ku, studiku akhirnya kelar; 3 Juli 2011 adalah tanggal berakhirnya perjuangan panjang. Namun ada udang dibalik bakwan, semua tak ada yang abadi. Susah berganti senang, keberhasilan tak lepas dari masalah.

Lima bulan terakhir ini aku disibukkan dengan tetek bengek wisuda dan perijinan untuk dapat praktek. Kalau urusannya dengan birokrasi memang segala sesuatunya tidak dapat dipaksa walau mungkin bisa dibayar. :P

Maka kalau disimpulkan kehidupanku di tahun 2011 adalah Juli Ceria dan November Rain… Ada kebahagiaan dan ada pula kesedihan. Melalu berbagai peristiwa aku pun diajar untuk selalu bersyukur pada setiap keadaan walau itu sulit.
Namun yang paling penting resolusi di tahun 2011 (kelulusan) sudah tercapai. Puas rasanya jika target tercapai :D

diambil dari zedge.net

Menyongsong 2012 aku belum mempunyai target khusus selain bekerja keras mencari sesuap nasi dan segenggam investasi… Bagaimana dengan kalian, apa yang paling berkesan di 2011 dan apa resolusi kalian di tahun 2012?

Happy New Year Everyone!!!

Posted with WordPress for BlackBerry.

Medical Check Up Gratis

Di jaman yang serba susah ini, kita harus berhemat mat jangan sampai besar pasak daripada tiang. Betul??? Nah, biasanya trik saya untuk mengerem nafsu untuk belanja barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan adalah dengan menjauhi mall. Kalau perlu berada di luar radius 1 km dari mall, jangan sampai plang apalagi bangunannya sempat tertangkap lensa mata saya… bisa bobol tabungan saya :)

Namun seminggu kemarin saya rajin datang ke salah satu mall di Semarang, hampir tiap hari malah. Bukannya saya dapat rejeki nomplok sehingga bisa berfoya-foya tapi karena Pameran Kesehatan Jawa Tengah tengah diselenggarakan di sana. Pameran ini kebanyakan diikuti oleh rumah sakit negeri maupun swasta, beberapa perusahaan farmasi, perusahan penyedia alat kesehatan, perusahaan asuransi kesehatan, beberapa penyedia layanan yang berhubungan dengan kesehatan bersifat kosmetik macam Nat**ha dan Ph*to serta tak ketinggalan perwakilan 3 rumah sakit di Singapura.

Cek densitas tulang... alatnya persis seperti ini

Kelihatannya tak terlalu menarik bukan? Kesan pertama memang kurang menggoda, tapi jangan salah, dengan mengunjungi satu persatu stand tersebut kita selalu mendapat hal dan “barang” yang menarik juga sekaligus menguntungkan. Seperti misalnya di salah satu stand RS X, kita tinggal mengisi kuesioner dan mengambil kertas undian yang pasti selalu berhadiah, walaupun cuma mug atau payung, yang namanya gratisan tetap menyenangkan. Selain itu di setiap rumah sakit pasti ada layanan konsultasi gratis dengan dokter spesialis sesuai denganjadwal masing-masing. Belum puas juga? Continue reading

Inet Lelet

Seminggu ini saya dibuat uring-uringan oleh koneksi internet yang super lelet. Baik itu untuk layanan BB (saya pakai Ind***t) ataupun telkomfl**h untuk modem laptop. Jika saya menggunakan modem maka bayangkan bagaimana sabarnya saya menunggu. Untuk membuka lama WordPress saja butuh waktu hampir 1 menit terus untuk mengedit post atau comment saya harus menunggu hampir 5 menit, itupun tampilannya tidak sempurna. Hadeehhh

Aaaaarrrrrrrrggggghhhhh!!!

Untuk menulis postingan baru terpaksa saya menggunakan aplikasi WordPress di BB. Sebenarnya tidak ada masalah dalam hal tulis-menulis, tapi untuk menambahkan media saya merasa kesulitan karena kadang-kadang gambar tidak berada di tempat yang diinginkan dan sampai saat ini saya masih bingung untuk mengatur ukuran dan alignment gambar… Jadi bisa dilihat postingan saya di bulan September ini miskin atau nir gambar :( Continue reading

Iskandar Widjaja, talenta milik Indonesia?

“Sudah pernah lihat iklan kopi JJ Royal?” Jawaban kalian pasti sudah berkali-kali atau bahkan puluhan kali mungkin sebagian bergumam “basi kali yee….” Saya pun sudah berkali-kali melihatnya tapi mungkin baru benar-benar mengamatinya seminggu ini. Selain alunan biolanya yang keren sehingga membuat gubahan Vivaldi tidak terasa membosankan walau didengarkan berkali-kali. Ternyata eh ternyata yang main OK juga. Sekilas ia tampak seperti Nicholas Saputra dengan rambut ikal kerennya namun tampak lebih muda. Iskandar Widjaja, seorang violinist, itulah nama pemuda yang asyik memainkan biola di iklan JJ Royal.

Iskandar Widjaja

Penasaran dengan sosoknya seperti biasa saya mengandalkan google. Banyak informasi yang saya dapat. Ternyata Iskandar “baru” berusia 25 tahun, lahir dan dibesarkan di Jerman, mendapat pendidikan musik (biola) sejak usia 4 tahun. Wow, tampaknya memang kalau mau menghasilkan seorang bintang segala sesuatunya memang harus dimulai dari usia dini. Continue reading

Sightseeing#9

Hmmm, senangnya menikmati kembali blogosphere… Banyak teman lama yang masih mengingatku dan ada teman baru yang ikut meramaikan Wonderland-ku ini… Aku jadi teringat tentang film Alice in Wonderland gaya gotik di tahun 2010 silam, dimana Alice “dewasa” kembali terjatuh dalam lubang kelinci, pintu masuk Wonderland. Setelah 8 bulan, Alice di Jawa ini juga hendak berpetualang kembali :)

image

Alice aseli menemukan bahwa beberapa bagian Wonderland sudah berubah bahkan ada yang berbeda sama sekali. Hal yang sama pun terjadi di sini, tidak sedikit teman blog yang “ikut-ikutan” absen ngeblog dengan alasan pekerjaan ataupun studi, bahkan beberapa narablog menghapus blognya… Continue reading

Persimpangan Jalan

Sudah lebih dari satu dekade saya hidup di kota Semarang ini, satu jam perjalanan jauhnya dari kota kelahiranku. Dahulu aku benci kota ini, sama sekali tidak termasuk dalam daftar kota favorit untuk berkuliah. Jakarta, Yogyakarta atau Bandung mungkin merupakan pilihan yang lebih baik. Semarang panas, kurang modern, dan tidak menarik!

Tapi hidup harus realistis, maka ketika hendak mendaftar UMPTN (hehe jadul banget yach) aku memilih UGM dan UNDIP sebagai pilihan karena lebih dekat dan lebih terjangkau biaya hidupnya. Keinginan untuk bersekolah di universitas terbaik di Indonesia kukubur dalam-dalam, aku pun diingatkan untuk mengukur kemampuan diri sendiri baik dari segi otak maupun keuangan (setahun sebelumnya, Aku pernah mendaftar UI melalui program PMDK (beasiswa untuk murid berprestasi) tapi ditolak mentah-mentah :P )

Hari itu, ketika nomer ujianku tertera di halaman Suara Merdeka sebagai calon mahasiswa perguruan tinggi di Semarang, aku sempat menangis… Sedih rasanya harus berkuliah di sana tapi tentu saja harus tetap bersyukur karena lulus ujian UMPTN.

Hari ini, rasanya aku mengalami dejavu… Lagi-lagi dihadapkan pada permasalahan yang hampir sama, hanya saja kali ini aku keberatan meninggalkan Semarang. Susah memang bangkit dan meninggalkan zona nyaman namun kali ini masa depanku juga dipertaruhkan. Di kota ini aku sudah terlanjur merajut mimpi untuk masa depanku, rasanya aku akan menghabiskan sisa umurku di sini. Aku yakin, waktu itu.

Namun lagi-lagi hidup tidak menawarkan jalan yang mudah, nasib enggan mengguratkan jalan yang kumau. Impian yang tampak di depan mata, yang rasanya sudah digenggam tiba-tiba hilang… Mungkin belum hilang namun sekarang menjadi samar keberadaannya. Sekali lagi aku diajar untuk mengikuti rencanaNya, bukan rencanaku. Sulit untuk dipahami hari ini, atau setahun mendatang, namun aku dituntun untuk bersabar melihat akhir dari rencana besarNya seperti Tuhan telah mengubah air mata kesedihan waktu aku pertama kali menginjakkan kaki di Semarang menjadi air mata bahagia saat aku lulus. :)

THANK God for what you have and
TRUST God for what you need…