Merry Riana memang terkenal sebagai seorang yang inspiratif, mampu mempengaruhi minimal membuat kagum orang banyak melalui kisah hidupnya dalam buku Mimpi Sejuta Dolar. Bagiku pribadi, Merry Riana membuat hatiku panas… merasa hidupku menjadi biasa-biasa saja dan seakan-akan aku sudah mengorbankan satu dekade hidupku diumur 20-an. Ini adalah gejala pertama yang biasa menimpa diriku setelah membaca kisah inspiratif dari biografi seseorang. Selalu saja terpengaruh dan ingin berubah menjadi sang tokoh.
Setelah menyelesaikan buku Mimpi Sejuta Dolar dalam waktu kurang dari 48 jam aku menjadi kagum dengan sosok yang umurnya hanya setahun lebih tua dariku ini. Ada beberapa hal yang menjadi perhatianku selama membaca buku ini. Pertama-tama tentu saja kisah penghematan 10 dolar seminggu untuk makan, dimana dengan kurs saat itu (tahun 1998) 10 dolar Singapura sama dengan 100.000 rupiah.
Jujur saja awalnya saya merasa heran mengapa uang itu tidak cukup, karena saat pertama kali saya kuliah pada tahun 1999 di Semarang, uang bulanan saya hanya 500 ribu dan itu termasuk biaya kos 65 ribu rupiah dan sisanya harus cukup untuk makan dan fotokopi berbagai bahan kuliah. Namun rupanya saat itu di Singapura 1 porsi nasi goreng harganya 20 ribu sedangkan saya bisa makan di Warteg dengan nasi, sayur dan telur serta teh manis dengan harga 5000 rupiah saja. Jadi akhirnya saya benar-benar memahami, sulit untuk bertahan hidup dengan uang 400 ribu sebulan di negeri Singa tersebut pada masa itu.
Ria (panggilan akrab Merry Riana) juga membuat keputusan yang mungkin tidak terpikirkan oleh saya, yaitu bekerja sebagai sales asuransi padahal ia adalah lulusan teknik elektro dari NTU (Nanyang Technological University) dengan nilai kelulusan setingkat dibawah cum laude. Masalahnya adalah bukan bergengsi atau tidaknya pekerjaan yang dipilihnya, tapi rasanya agak percuma bersekolah 4 tahun menekuni suatu bidang dan kemudian saat bekerja pengetahuan itu tidak kita pakai sama sekali. Bukankah itu tindakan membuang waktu?
Memang pada kenyataannya banyak sekali lulusan universitas di Indonesia yang melakukan hal itu; yang penting mendapat pekerjaan untuk dapat menyambung hidup, bukan saatnya untuk bersikap idealis. Saya tidak meremehkan Ria dengan pilihannya, karena dalam bukunya jelas tertera alasan kuat mengapa ia melakukan hal tersebut. Tentu saja itu bukan merupakan keputusan yang mudah buatnya, apalagi ibunda Ria awalnya tidak menyetujui.
Dari kisah tersebut, saya menyadari bahwa pada masa perkuliahan banyak hal yang dapat dipelajari. Sebagian besar kita mendapat pengetahuan dan keterampilan yang kita butuhkan untuk bekerja. Namun sikap disiplin, kerja keras, pantang menyerah, pertemanan yang berujung pada pembangunan relasi dan kegiatan organisasi/ekstrakurikuler yang melatih keterampilan berkomunikasi juga sangat bermanfaat dalam dunia kerja. Maka dengan bekal pendidikan yang tinggi dan kebiasaan baik yang terbina selama masa perkuliahan, Ria dan Alva (suami sekaligus teman semasa kuliah di NTU) dapat merancang strategi yang efektif dan berbuah pada pencapain 1 juta dolar di usia 26 tahun.
Karakter yang menonjol dari Ria adalah pekerja keras serta pantang menyerah dan bahkan kadang sedikit “ngoyo” kalau menurut orang Jawa. Tapi “ngoyo” yang efektif tentunya karena ada Alva yang pandai merancang strategi. Strategi 20 presentasi sehari untuk mendapatkan 1 klien memang membutuhkan keteguhan hati serta disiplin tinggi. Walau kadang ingin menyerah, namun sang suami (yang saat itu masih berstatus tunangan) selalu mengingatkan pentingnya disiplin agar ritme pekerjaan tak terganggu. Pada bagian ini saya rasanya ingin punya partner kerja seperti Alva yang selalu mengerti, memberikan dukungan, mampu merancang strategi dan bersedia bekerja di balik layar untuk keberhasilan bersama. What a man!
Hal terakhir dan menurut saya pelajaran terpenting yang dapat saya petik adalah, bahwa Merry tidak berhenti berkarya. Setelah sukses menjadi seorang President Star Club dengan penghasilan 1 juta dolar dalam usia yang relatif muda, ia pun mencari target baru yang tidak berpusat hanya pada pengembangan bisnis tapi lebih untuk berbagi pada sesama, yaitu dengan menetapkan target “menciptakan dampak positif di dalam kehidupan paling sedikit 1 juta orang di Asia, terutama di Indonesia”. Tentu saja ini tak lepas dari hubungan yang dekat dengan sang Khalik, Merry selalu “lari” pada Tuhan di saat susah maupun gembira. Segala sesuatu yang diberkati Tuhan pasti akan membuahkan hasil yang baik pula.
Banyak kisah dan pelajaran berharga dari buku ini, seperti kisah pertemua Ria dengan Anthony Robbins, masa-masa kelam yang disebut “the darkest hour”, masa-masa kegagalan pasangan tersebuat saat memulai bisnis dan masih banyak lagi yang tidak dapat diulas satu persatu. Sungguh tidak rugi meluangkan waktu untuk membaca buku ini. Bagaimana dengan kalian, apakah buku ini memang inspiratif?




kerennn jadi pengen baca,,
aku sering liat kalau ke gramed
dan termasuk best seller dari buku yang ada
Keyen! Tapi sayang, di kotaku gak ada toko buku gramedia!
Kehidupan orang emang udah diatur
48 jam menulis buku,hebat. .
aku prnah ntn wwncara dia diKick Andy n liat bku2nya diGramedia, emg keren si ni orang khekhe
msh muda udh kaya raya, pinter pulak n yah bener bgt klo dgr critanya dia itu pkerja keras
Aku belum baca bukunya..
Tapi satu yang aku ambil dari semua orang sukses: Ulet itu pasti ada..
Ulasan yang menarik say
aku dah punya bukunya mbak,baru baca bab 1 nya sih..
Semoga saja hidupmu juga bisa sesukses Ria kelak, ya..
Oke, oke, penguasaan bahasa inggris saya harus diperbagus lagi.
Aku tertarik baca kisah Riana hanya karena penulisnya Alberthiene Endah, sebelumnya aku jarang membaca buku motivasi. Ternyata tak rugi membelinya (mahal tenan harganya =_=), banyak pelajaran yang bisa dipetik di sana.
Oh iya, salah satu buku motivasi yang aku suka berjudul Myelin karya Rhenald Kasali, terbitan Gramedia Pustaka Utama. Pembahasannya benar-benar beda dan “di luar kotak”, tapi ternyata ‘ampuh’ ketika dipraktekan.
Selamat Tahun Baru 2012, Alice van Java =).
Hebat ya Merry Riana .. aku pernah baca di website Indonesia Berprestasi, moga Alice juga nanti sukses seperti mbak Merry!
jadi pengen beli bukunya. sering lihat di jajaran best seller di gramed. makasih reviewnya
kayaknya pernah liat bukunya.
setiap usaha ada imbalannya yah. keputusan ada di kita apakah mau, kapan dan bagaimana memulainya.
aaaahhhh inspiratif bangeeettt..
jadi pengen baca juga bukunyaaa..
*tema blog kita sama lho kak,.
#truskenapa
haha
Hehe… Semoga setelah baca buku ini, Alice juga makin ngoyo untuk up date blog
Nice, I bookmarked this page on Digg under “Mimpi Ria | Pursuit of Happiness”. So hopefully our friends can give you a visit. Cheers!