Di penghujung tahun kemaren, saya disuruh atasan untuk mengikuti sebuah semiloka mengenai ASI. Sebenarnya agak bete juga waktu berangkat karena saya baru diberitahu jam 10 pagi, sedangkan acara dimulai jam 1 siang, di luar kota pula (1,5 jam perjalanan bila tidak macet) dan harus menginap semalam! Alhasil langsung saja saya kalang kabut pulang dan menata baju serta peralatan seperlunya untuk menginap sehari semalam di sana. Setelah samapai di hotel tempat semiloka berlangsung, saya kaget karena saya adalah peserta kedua yang datang padahal saya sudah terlambat setengah jam. Seharusnya saya memang tidak perlu panik, saya lupa kalau acara pemerintah seperti ini memang banyak molornya dan berkesan diselenggarakan untuk menghabiskan anggaran di akhir tahun.
Terlepas dari prasangka buruk tadi, semiloka ini ternyata cukup menarik. Tujuannya adalah untuk memperkuat kemitraan dengan kelompok pendukung ASI. Siapakah yang dilibatkan? Tentu saja pihak dinas kesehatan provinsi Jawa Tengah, tenaga kesehatan termasuk bidan dan dokter spesialis anak, perwakilan fakultas kedokteran, fakultas kesehatan masyarakat serta gizi dari masing-masing universitas di Jawa tengah, perwakilan organisasi profesi yang berkaitan (Ikatan Bidan Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia,dll) serta tak lupa perwakilan dari pihak perusahaan-perusahan di wilayah Jawa tengah. Mengapa harus melibatkan perusahaan?
Di indonesia ternyata banyak ibu yang tidak sadar, tidak tahu, tidak mau dan bahkan tidak mampu untuk memberikan ASI secara ekslusif (ASI saja tanpa tambahan lain) selama 6 bulan pertama kehidupan sang bayi tercinta. Banyak sekali yang menjadi penghalang, misal ASI tidak keluar, produksi ASI sedikit padahal bayi masih lapar, ibu bekerja sehingga tidak sempat menyusui bayi atau tidak dapat dipungkiri kadang ibu frustasi karena bayi tidak mau menyusu atau terlalu lelah untuk bangun tiap 1 jam sekali sepanjang malam!
Susu formula pun menjadi solusi praktis untuk problem menyusui; bayi kenyang, ibu senang, ayah pun tenang. Namun pemberian susu formula pada usia bayi kurang dari 6 bulan merupakan tindakan yang merugikan baik dari segi nutrisi bayi maupun keuangan orang tua karena tidak ada susu yang murah! Maka diperlukan suatu usaha atau gerakan yang komprehensif untuk membantu ibu bersemangat untuk menyusui bayinya sampai minimal 6 bulan.
Bagi ibu yang bekerja dan tidak mendapatkan kemewahan cuti 6 bulan untuk menyusui bayi, tentu saja menyusui merupakan hal yang sulit untuk dilakukan. Bagaimana seorang buruh pabrik dengan shift kerja pagi sampai sore dapat menyusui bayinya yang berumur 3 bulan yang tidak mungkin dibawa ke tempat kerja? Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah dengan “memerah” ASI dan disimpan dalam lemari pendingin agar dapat diberikan kepada bayinya. Masalahnya adalah dimana ibu hendak memerah ASI, atau minimal menyusui bayinya? Ironis tapi nyata, ternyata ada ibu yang terpaksa “memerah” ASI di toilet! Maka kebutuhan tersedianya ruangan khusus dan tertutup untuk melakukan aktivitas tersebut adalah hal yang mutlak dipenuhi.
Nah tidak semua tempat bekerja apalagi perusahaan menyediakan ruang laktasi ini (nickname ruang memerah ASI). Maka dengan mengundang pihak perusahaan diharapkan jajaran direksi tergugah hatinya untuk menyediakan fasilitas tersebut bagi ribuan karyawan perusahaan yang sebagian besar adalah perempuan usia reproduksi. Bukan saja pihak perusahaan yang dituntut untuk menyediakan ruang laktasi, kantor pemerintah, center pendidikan, mall atau tempat publik lainnya seperti stasiun atau bandara diharapkan mempunyai ruang khusus busui (ibu menyusui) ini.
Namun masalah tidak berhenti sampai di situ, ASI yang sudah dikumpulkan oleh ibu tersebut, tentu saja harus diminumkan ke bayinya. Masakan bayi harus puasa selama minimal 5 jam menunggu ibunya pulang dahulu baru diberi ASI? Misal ibu itu punya pembantu atau saudara yang dapat menjadi kurir pengantar ASI, tentu saja itu tidak menjadi masalah. Namun akan berbeda cerita jika seorang buruh pabrik yang tidak punya pembantu dengan jarak rumah 1 jam perjalanan naik bus harus memberikan ASI pada si bayi. Apa ada bos yang berbaik hati untuk mengijinkannya pulang sebentar untuk menyusui atau mengantarkan ASInya?
Dari sebuah majalah saya mendapat informasi bahwa di Jakarta memang ada layanan khusus untuk mengantar ASI; dengan bayaran 30ribu-40ribu ASI anda dijamin sampai ke tujuan. Namun tentu saja pengeluaran ekstra semacam ini tidak mampu dibayar oleh para buruh pabrik dengan gaji pas-pasan. Sampai semiloka berakhir, masalah ini belum mendapatkan solusi yang efektif. Ada juga usulan untuk menyediakan layanan penitipan bayi di perusahaan, namun dibutuhkan dana yang besar untuk menyewa perawat/baby sitter untuk mengawasi bayi yang dititipkan. Kendala lain adalah belum tentu ibu mau membawa bayinya naik bus yang penuh dengan penumpang berdesakan selama 1 jam dari rumah menuju tempat kerja.
Banyak kendala namun ada juga hal yang dapat dilakukan untuk menggiatkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dengan harapan setiap anak Indonesia dapat dengan riangnya mengatakan “Aku Anak ASI” dan menjadi orang yang sukses, layaknya sebuah iklan susu formula di televisi





kalau gak salah ya..
anak yang minum asi,, sifat pekanya lebih tajam,,dan kontak batin ke ibunya juga lebih kuat
tapi bukannay bisa ya,,asi diperah di rumah,,trus di simpan di kulkas.. nanti tinggal kasih ke bayinya aja
Dulu waktu baru punya bayi, sebelum kerja ASI aku perah lalu simpan untuk persediaan sehari sampai aku pulang lagi
Kadang malam juga aku perah, pokoknya perah sebanyak-banyaknya hehehehe…. Syukurlah ASI ku tergolong banyak dan cukup. Malaikat bungsuku menyusu hingga umur 1 th 8 bulan
Itupun aku stop karena suka iseng gigit-gigit
Semoga ibu-ibu yang lain mendapat solusi untuk bayinya yaa…
Untunglah mamaku ibu rumah tangga, jadi saya dan adik2 selalu mendapat cukup ASI, hehehe
Mudah2an bayi2 yg ibunya bekerja bisa tetap cukup ASI.
Jaman sekarang, ada perkumpulan ibu2 yang menyumbangkan ASI. Menurut saya itu harus hati2, anak yang minum ASI orang lain sama saja telah jadi saudara sepersusuan (menurut saya). Artinya, dalam islam, anak si penerima ASI dan pemberi ASI tersebut nggak boleh menikah di kemudian hari.
baru tahu ada donor ASI
jika ibunya kerja pagi pulang sore, kira-kira berapa jumlah botol ASI yang diperlukan. apakah ASI itu aman langsung dikonsumsi ketika dingin ataukah ada langkah selanjutnya ?
ROFL LoL is this really you? http://j.mp/zWzLk0?=ObHpTb0
OMFG LoL this isn’t you right? http://j.mp/xaUrzB?=UvSpCj7
Izin baca-baca dulu ya
http://www.disave.blogspot.com
Baru tau kalo ada kurir Asi..
wah baru tau ada kurir asi… ada2 aja.. hehe
sebenernya bisa juga bawa icepack kan, jadi asi nya bisa disimpen sampe pulang kantor.
asi tetep adalah yang terbaik untuk bayi karena asi diciptakan Tuhan. gak mungkin dong susu formula yang ciptaan manusia bias mengalahkan asi ayng diciptakan Tuhan.. ya gak…
Bagus banget jika semua ibu2 menjadikan ASi sebagai minuman konsumsi bayi. Patut untuk terus disosialisasikan pentingnya mengkonsumsi asi dibandingkan dgn susu kaleng. Dan yang pasti, bayi akan lebih kua terhadap serangan penyakit karena imun yang hebat
Wah, saya baru tahu ada jasa delivery ASI segala.
Rata-rata teman kantor aku yang baru melahirkan pasti bermasalah dengan asi mereka. Bukan tidak mau menyusui, tapi terkadang asi mereka sedikit dan tidak mau keluar. Alhasil mau nggak mau harus ditambah supply susu formula supaya baby nya nggak kelaparan.
Wah, sedih kalau inget para wanita buruh yg punya bayi. Keadaan demikian menekan sehingga untuk memenuhi kebutuhan utama si bayi begitu sulit. Padahal, ASI penting banget, ya.
Mungkin cara paling efektif memang “memerah” ASI di ruang laktasi (kalau terpaksa, di toilet), dan diminumkan ke bayi setelah si Ibu pulang kerja. Untuk pagi harinya, si Ibu perlu “memerah” ASI nya utk persediaan selama jam kerja….
Ibu juga perlu menjaga asupan makan tuh, supaya ASI nya lancar….
Pingback: KALImilk for NENENers | Pursuit of Happiness
siip banget susu ASI sangat bagus sekali untuk kesehatan dan perkembangan sang bayi,,